|
Dikelilingi Air
Karakteristik wilayah yang berdataran rendah, ber-rawa dan sering tergenang air, menyebabkan pembangunan konstruksi jalan di Kabupaten Asmat menggunakan konstruksi jalan jembatan. Jalan jembatan inilah yang menjadi sarana transportasi bagi masyarakat setempat untuk melakukan perjalanan darat. Satu-satunya cara untuk melaluinya adalah dengan berjalan kaki.
Di kota Agats, ibukota Kabupaten Asmat, seluruh bagian kota dihubungkan dengan jalan jembatan ini. Jalan utama di kota ini adalah sebuah jembatan dengan lebar kira-kira 2 meter yang memanjang menuju pusat-pusat perekonomian seperti pasar, pusat pemerintahan, pusat kesehatan, sarana umum, tempat ibadah dan sekolah. Masing-masing rumah terhubung dengan jembatan seadanya menuju jembatan utama yang herfungsi sebagai jalan umum bagi pejalan kaki. Tidak ada kendaraan bermotor roda dua dan empat di kota kabupaten seperti Agats. Jadi tidak ada polusi suara maupun polusi udara di sini.
Kondisi seperti ini menciptakan interaksi yang sangat tinggi di antara masyarakat, karena hampir semua warga akan melintas di jalan jembatan ini, tak terkecuali para pejabat. Interaksi masyarakat yang sangat tinggi ini memungkinkan satu sama lain saling mengenal dan saling menyapa.
Kehadiran orang asing atau tamu akan langsung dikenali di wilayah itu Masyarakat Asmat sangat ramah dengan para pendatang baru atau tamu di wilayahnya. Mereka biasanya akan menyapa selamat pagi atau selamat siang jika berpapasan di jalan.
Sedangkan untuk berhuhungan dari satu distrik ke distrik lain, yaitu bagian wilayah di luar kota Agats, digunakan transportasi air. Beberapa alat transportasi air seperti perahu, perahu panjang tradisional, perahu panjang dengan motor dan speedboat sering menjadi pilihan untuk perjalanan antar kampung dan distrik.
Untuk keperluan hidup sehari-hari seperti mencari sago dan gaharu di hutan, mereka juga menggunakan perahu. Perahu-perahu orang Asmat sangat kuat karena menggunakan kayu besi yang panjangnya bisa sampai 7- 8 meter. Perahu itu diberi warna meerah kecoklatan, dengan perpaduan ornamen warna putih dan hitam. Pada ujung perahu dibuat ukiran khas Asmat yang indah. Di tengah perahu hiasanya dibuat perapian dengan alas tanah. Sehingga ketika mereka mendayung perahu berjam-jam atau perjalanan berhari-hari perapian itu bisa dimanfaatkan untuk memasak sago atau membakar ikan. Sebuah cara yang unik, cerdik dan alami.
Ciri khas suku Asmat ketika mendayung perahu sangat unik. Mereka melakukannya tidak dengan duduk melainkan sambil berdiri. Anehnya mereka bisa menjaga keseimbangan tubuh sehingga perahu tetap jalan dan tidak terguling, Bahkan anak-anak Asmat pun bisa melakukan yang dilakukan orang tua mereka. Sebuah pemandangan yang unik dan menarik.
Untuk jaringan transportasi laut, Kabupaten Asmat dilalui kapal rute Merauke-Asmat-Timika-Kaimana-Dobo dan seterusnya. Sedangkan untuk transportasi sungai telah menghuhungkan ke tujuh distrik di Kahupaten Asmat dengan menggunakan perahu tradisional atau perahu motor yang dapat disewa.
Dermaga-dermaga di distrik-distrik itu hanya hisa dilalui kapal-kapal berukuran kecil. Dermaga yang lebih besar perlu dibangun untuk menampung kapal yang lebih hesar. Pembangunan dermaga ini diharapkan mampu mendorong perkembangan daerah itu secara keseluruhan.
Jaringan transportasi laut memang memegang peranan yang penting untuk pengembangan wilayah, khususnya untuk wilayah pulau dan sepanjang pantai barat Kabupaten Asmat. Transportasi laut ini dapat dibagi dalam tiga layanan, yaitu:
-
Pelayanan Intra Papua. Rute ini ditempuh menyusuri pulau hesa dan pulau-pulau kecil yang dapat menunjang kebutuhan masyarakat yang her domisili khsusunya di sekitar pantai.
-
Pelayanan Antar Pulau. Pelayanan ini mengarah ke semi regional, antar provinsi yang berfungsi memenuhi kehutuhan pokok dan pembangunan mempermudah pemasaran produk Asma dan mobilisasi penduduk yang menghuhungkan daerah Maluku dan Papua secara umum.
-
Pelayanan Jarak Jauh. Rute yang ditempuh adalah wilayah Indonesia bagian tengah dan wilayah jawa-Bali dengan kapal-kapal ukuran besar.
Untuk transportasi udara, lapangan udara perintis Ewer merupakan lapangan terbang utama yang menghubungkan Kabupaten Asmat dengan Kabupater Merauke dan Kabupaten Mimika dengan jenis pesawat Twin Otter.
Di samping transportasi air, transportasi udara bagi Kahupaten Asmat termasuk memegang peranan penting mengingat wilayah ini berbatasan dengan laut Arafun dan di bagian utara dikelilingi oleh gugusan pegunungan tengah yang mengisolasi kabupaten ini dari daerah luar.
Kehidupan Masyarakat Asmat
Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua yang terkenal di dunia karena apa yang pernah dipraktekkan di masa lalu yaitu sebagai suku yang suka memenggal kepala musuh dan juga karena keunikan ide mereka serta keindahan desain yang mereka miliki dalam ukiran kayu.
Meski memiliki kesamaan di bidang seni ukir, tetapi mereka juga memiliki perbedaan pola dan model ukiran. Demikian pun dalam hal adat istiadat, ada pula perbedaannya. Dalam pesta adat misalnya, antara mereka yang berada di dekat pantai akan berbeda dengan mereka yang berada di pedalaman hutan. Kayu yang digunakan untuk membuat karya ukir juga memiliki perbedaan. Mereka yang berada di dekat pantai akan menggunakan kayu dari hutan mangrove.
Untuk makanan, mereka mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, termasuk hasil tangkapan air seperti ikan, udang, kepiting yang berlimpah ruah di perairan wilayah Asmat. Mereka juga menggemari makanan tambahan seperti ulat sagu atau sejenis ulat kayu yang sudah lapuk. Meski demikian, seiring perkembangan waktu, mereka juga mengkonsumsi nasi karena pangaruh para pendatang di daerah itu.
Masyarakat Asmat terkenal memiliki religiusitas yang tinggi terutama dengan keseimbangan kehidupan yang dikaitkan dengan mitos dan pertolongan roh nenek moyang. Orang Asmat mengenal tiga dunia. Capmbinak atau asmat-ow adalah dunia makhluk hidup yaitu di dunia ini. Kemudian ada Capininiatau damer-owyaitu alam gaib dan roh-roh yang merupakan sumber ketakutan. Orang Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka berada di sebuah tempat yang disebut Safan atau Ji-owatau dalam konsep orang beragama monoteis disebut surga.
Harmoni dan kedamaian bagi orang Asmat bersumber dan terjaga hanya dengan menjaga keseimbangan di antara tiga dunia itu. Untuk menjaga kesimbangan antara ketiganya harus dipenuhi dengan kewajiban ritual tertentu yang dilakukan secara periodik. Mengukir adalah salah satu bagian dari ritual yang merupakan bagian dari pemujaan nenek moyang yang dikaitkan dengan keseimbangan ini.
Orang Asmat hidup di dua area, yaitu di sepanjang tepi pantai atau sungai dan di pedalaman. Antara dua kelompok masyarakat ini juga memiliki perbedaan dialek bahasa, cara hidup, struktur sosial dan pesta ritual. Mereka semua tersebar di desa-desa di wilayah sekitar 27.000 kilometer persegi dengan kondisi tanah ber-rawa dan digenangi air pada musim penghujan. Sebelum para misionaris dan ekspedisi asing datang ke wilayah ini sekitar tahun 1950-1960-an, mereka adalah suku yang belum terjamah oleh peradaban modern.
Rumah tradisional Asmat adalah Jeu, dengan panjang sampai 25 meter. Sampai sekarang masih bisa dijumpai rumah tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat pedalaman. Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal di atas pohon.
Saat ini kehidupan masyarakat Asmat sudah mulai berubah dengan kehadiran banyak pendatang dari luar daerah yang memperkenalkan peradaban modern. Para pendatang ini adalah para pedagang dan pegawai pemerintahan yang berdiam di kota-kota kabupaten maupun kecamatan. Bagi masyarakat Asmat, kehadiran para pendatang ini bukan lagi semacam ancaman seperti pada masa lalu melainkan sebagai partner untuk membangun Asmat semakin maju.
Saat ini Asmat telah menjadi sebuah kabupaten baru (sebelumnya Asmat termasuk wialyah Kabupaten Merauke yang dipimpin oleh seorang putra daerah, Yuvensius A. Biakai, putra asli Asmat yang sudah dikenal di kalangan masyarakat dan dipilih secara langsung) bupati menjadi sebuah harapan baru bagi masyarakat di sana.
Pembangunan yang berpijak dan berdasarkan akar budaya masyarakat setempat tentu akan menjadi visi yang akan dijalankan dalam pembangunan Asmat secara keseluruhan oleh bupati saat ini. Sehingga dalam pembangunan itu seluruh masyarakat Asmat terlibat dan ikut menikmati hasil pembangunan daerahnya.
|