|
Kamis, 07 Januari 2010 17:49 |
|
Profil Investasi
Wilayahnya yang berbatasan dengan Laut Arafuru dan terkepung kaki pegunungan Jayawijaya, membuat Kabupaten Asmat hanya bisa dijangkau oleh transportasi air dan udara saja. Tersedia lapangan terbang di Agats, yakni Bandara Ewer. Ada pula bandara yang terletak di Pantai Kasuari.
Asmat memang sudah dikenal dunia. Seni pahatan dan ukir-ukiran kayu yang khas telah mengangkat nama Asmat. Masyarakat Asmat secara turun temurun memang menekuni seni yang dulunya digunakan sebagai pelengkap upacara saja. Berbeda dengan penduduk Papua pedalaman yang makanan utamanya umbi-umbian, makanan pokok masyarakat Asmat adalah sagu. Sagu memang banyak tersebar di hutan di daerah ini. Ketergantungan suku Asmat pada hutan terlihat dari kehidupan sehari-harinya yang memang menggunakan hasil hutan, seperti sagu dan kayu besi untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat. Sebenarnya, hutan yang ada tidak sekedar menghasilkan kayu semata, tetapi juga menghasilkan hasil hutan non kayu seperti gaharu, kemiri, damar dan rotan.
Masih ada sektor lain yang cukup berpotensi, yakni perikanan. Dari 23 kecamatan di Kabupaten Merauke (sebelum pemekaran), hanya tujuh kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut Arafuru. Lima kecamatan merupakan milik Kabupaten Asmat. Ini sebenarnya merupakan peluang emas untuk mengembangkan sektor perikanan. Produksi perikanan yang dihasilkan seperti ikan kakap, cucut, kepiting, udang, teripang, dan cumi-cumi. Potensinya cukup melimpah mengingat Laut Arafuru merupakan salah satu wilayah penangkapan di Indonesia yang produksinya cukup banyak.

|