| Pagelaran Budaya Asmat |
|
|
|
| Kamis, 13 Agustus 2009 16:23 |
|
Nama Asmat mendunia lewat budaya, baik itu dalam bentuk ukiran-ukirannya maupun seni tarinya, untuk mempertahankan kebudayaan tidak terkikis oleh perkembangan jaman, maka setiap tahunya masyarakat adat Asmat mengelar pesta budaya.
Berdasarkan sejarah, dilakukannya perayaan pesta perak bermula ketika Mgr. Alfonsius A. Sowada, OSC uskup pertama Keuskupan Agats merealisasi gagasan untuk melastarikan seni ukir Asmat sebagai unsur budaya bangsa melalui lomba-lomba seni ukir pada tahun 1981.
Dari kegiatan inilah, dunia mulai mengenal Asmat melalui hasil karya dari tangan sang pengukir (tangan wow pits), adapun seni tari yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ritual yang melembaga didalam kehidupan religi. Seni tari, seni ukir menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Asmat dan seni ukir merupakan ikon yang menyatu. Ukiran kayu merupakan unsur pokok jati diri budaya asmat dan alam roh. Orang Asmat percaya, dunia hakekatnnya terdiri atas tiga lapis. Yaitu bagian pertama, dunia hidup atau Asmat (alam kehidupan) untuk yang kedua, tempat persinggahan orang atau orang yang sudah meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di surga (safar dalam bahasa Asmat).
Menurut sumber, orang Asmat percaya roh-roh yang tinggal di dampu (alam lain) penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi, dan peperangan. Orang masih hidup harus menebus roh-roh ini dengan membuat pesta - pesta dan ukiran serta memberinya nama agar mereka dapat masuk ke dalam surga (safar) yang merupakan tujuan akhir.
Sedangkan bagian ketiga, kehidupan orang Asmat percaya ini melanggengkan diri di dalam kehidupan masyarakat hingga kontak dengan dunia luar mulai terjadi. Berdasarkan kontak suku Asmat dengan dunia luar sejak abad 17 ketika penjajah singgah di Asmat dalam rangka ekspedisi sejak itu kontak dengan dunia luar mulai terus terjadi. Kontak dengan dunia luar itu terjadi hingga tahun 1930 dan secara konsisten serta berlanjut ketika akhirnya pastor Zegwaard dan pastor Willing mendirikan pos gereja Katolik pertama 4 Februari 1954. Dan secara perlahan tapi pasti mengalirkan perubahan dalam kehidupan suku Asmat sampai sekarang. |










